07 May, 2009

Hatta Rajasa Isyaratkan Siap Jadi Cawapres SBY


Politisi PAN Hatta Rajasa mengisyaratkan bersedia menjadi cawapres SBY jika ditunjuk oleh SBY. Hal ini membantah berita sebelumnya yang mengatakan Hatta mundur dari bursa cawapres SBY.

"Saya berharap Rapimnas di Yogya adalah keputusan yang sudah final," kata Hatta di Kompleks Setneg, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (7/5/2009).

Rapimnas PAN di Yogyakarta memutuskan Hatta diusung menjadi cawapres SBY. 28 DPW PAN secara aklamasi memilih Hatta. Sementara 4 DPW lainnya tidak sepakat.

Menurut Hatta, dengan demikian tidak diperlukan lagi diadakan Rapimnas PAN di Jakarta pada 9 Mei 2009.

Hatta mengklarifikasi seputar isu dirinya mundur dari cawapres SBY. "Cawapres itu diserahkan sepenuhnya kepada presiden (SBY). Jadi kalau ada koalisi dan masing-masing membawa calon wapres itu nanti membawa kesusahan," jawab Hatta saat ditanya rumor mundurnya dari bursa cawapres SBY.

"Soal maju mundur itu kan kalau sudah ada start. Saya maju saja tidak kemarin," cetus lulusan ITB ini.
Reblog this post [with Zemanta]

PD Berharap Mega Segera Bertemu SBY


Partai Demokrat (PD) berharap antara ada pertemuan segera antara SBY dengan Megawati. Hal ini dimaksudkan untuk menjalin komunikasi agar pembangunan bangsa dapat dilakukan secara bersama-sama.

"Alhamdulilah kalau Ibu Mega mau ketemu SBY, dari dulu kan pengen ketemu hanya waktunya belum bisa. Pemimpin kan harus bersatu padu," kata Ketua Fraksi PD, Syarif Hasan kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/5/2009).

Menurut Syarif, sekalipun PDIP adalah partai oposisi namun bisa saja menjadi teman koalisi dalam pemerintahan 5 tahun mendatang. Hal itu disebabkan kedua partai memiliki arah kebijakan yang tidak jauh berbeda.

"Kita kan belum pasti oposisi, semua bisa terjadi seperti itu, bisa saja kami berkoalisi dengan PDIP, platform kami kan sama," ujar Syarif.

U.S. President George W. Bush and Mrs. Laura B...Image via Wikipedia


Bagi suami Ingrid Kansil ini, dalam politik tidak ada kawan abadi dan lawan abadi. Karena kepentingan dalam politik itu selalu menjadi menu utama. "Tidak ada istilah kawan tidak ada istilah lawan," imbuhnya.

Dalam kesempatan ini Syarif juga mengungkapkan bahwa PD hingga saat ini masih membuka pintu koalisi dengan Golkar dan parpol lainnya termasuk PDIP. "Peluang akan selalu ada sebelum ada Janur Kuning Melengkung. Jadi masih bisa berkoalisi dengan siapapun termasuk Golkar dan PDIP," pungkas Syarif.
Reblog this post [with Zemanta]

Boediono Cawapres SBY, Kedaulatan Ekonomi Bangsa Terancam

Masuknya nama Boediono sebagai kandidat cawapres SBY membuat sejumlah kalangan ketar-ketir. Pengamat ekonomi-politik Ichsanuddin Noorsy menilai kedaulatan ekonomi Indonesia semakin terancam bila SBY-Boediono akhirnya terpilih sebagai capres-cawapres mendatang.

"Kita tinggal tunggu saja kehancuran ekonomi Indonesia. Negara kita bakal menjadi antek neoliberal. Padahal Amerika Serikat saja yang jadi dedengkot aliran tersebut sudah porak-poranda ekonominya," kata Ichsanuddin Noorsy saat dihubungi detikcom, Selasa (5/5/2009).

Noorsy mengatakan, karakter Boediono adalah textbook thingking. Sehingga dia tidak bisa

Indonesia: Plenary sessionImage by London Summit via Flickr

berpikir alternatif untuk mengatasi kesulitan ekonomi dan kemiskinan.

"Boediono hanya tahu bagaimana menarik investor asing yang akan menguasai perekonomian kita. Bukan menyelesaikan masalah perekonomian yang saat ini kita hadapi," tegas.

Aliaran neoliberalisme, lanjut Noorsy mengagungkan persaingan dan kebebasan individu. Sedangkan masyarakat Indonesia umumnya punya karakter mementingkan kerja sama dan persaudaraan sosial.

"Jadi kalau Boediono terpilih jadi wapres, tinggal tunggu waktu saja bangsa kita jadi budak asing," pungkasnya
Reblog this post [with Zemanta]

Konflik PAN berlanjut




Jakarta - Konflik internal di tubuh Partai Amanat Nasional (PAN) diprediksi bakal berjalan panjang. Sebab Ketua Umum PAN Soetrisno Bachir sampai saat ini masih belum mau menerima hasil keputusan Rapimans Yogya yang mencalonkan Hatta Rajasa sebagai cawapres tunggal SBY.

"Mas Tris sampai sekarang belum bisa menerima hasil itu. Karenanya, ini bisa panjang kalau kubu Pak Amien tidak membicarakan masalah Rapimnas dari hati ke hati lagi," kata pengurus DPP PAN yang tidak mau disebutkan namanya kepada detikcom, Selasa (5/5/2009).

Menurut anggota DPR RI ini, jika sampai pengajuan capres dan cawapres konflik internal ini tidak terselesaikan, PAN terancam tidak memberikan dukungan secara resmi kepada capres tertentu. Sebab SB akan menghambat tanda tangan dukungan PAN terhadap capres tertentu jika masalah internal tidak terselesaikan dengan baik.

"Saya dengar Mas Tris benar-benar kecewa. Kalau hasil Yogya dipaksakan tanpa ada pembicaraan lagi, kabarnya Mas Tris tidak akan menandatangani surat dukungan parpol," paparnya.

Saat ditanya bagaimana jika seandainya langkah SB yang menolak menandatangani dukungan resmi PAN kepada SBY dan PD, apakah tidak takut digulingkan, sumber itu menjawab," Mas Tris itu merasa kurang apa usahanya dia selama ini untuk mempertahankan suara PAN. Tapi apa yang dia dapat. Akhirnya, muncul semacam pemikiran, tidak peduli mau diapakan dia."

Untuk diketahui, konflik internal PAN memuncak saat digelarnya Rakernas PAN di Yogyakarta. Dalam Rakernas itu sebelumnya disepakati bahwa hasilnya tidak akan menyebutkan nama tertentu untuk cawapres, karena soal cawapres secara final akan diputus dalam Rakernas ke 2 PAN di Jakarta tanggal 9 Mei mendatang.

Tetapi yang terjadi dilapangan justru keputusan pencalonan tunggal Hatta Rajasa sebagai satu-satunya kader PAN yang akan diusung dalam bursa cawapres SBY. Kontan saja keputusan ini menjadikan SB dan kubunya merasa ditelikung.
Reblog this post [with Zemanta]

Wiranto: Jadi Cawapres Bukan Hal yang Hina

Wiranto menolak tudingan dirinya haus kekuasaan. Bagi mantan capres Golkar di 2004 lalu ini, posisi capres dan cawapres sama saja. Hanya beda tipis.

"Karena bagi saya jabatan hanya wahana pengabdian, selain itu antara capres dan cawapres hanya beda dua huruf. Untuk apa merasa hina," kata Wiranto usai diskusi di Jl Jatipadang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2009).

Alasan dia turun derajat menjadi cawapres pun semata-mata untuk berbakti pada bangsa Indonesia.

"Saya juga tidak ingin perjuangan saya tumpul karena tidak jadi capres," terangnya.

GolkarImage via Wikipedia


Lalu kenapa memilih bergabung kembali dengan Golkar? "Saya dulu berasal dari Golkar. Sehingga tidak langsung saya berasal dari sana," tutup Ketua Umum Hanura ini.
Reblog this post [with Zemanta]