07 May, 2009

SBY 'Obat' Perpecahan PAN

Partai Amanat Nasional (PAN) tengah dilanda masalah internal menjelang Pilpres 2009.
Capres SBY dinilai bak menjadi obat mujarab untuk

Indonesia: Plenary sessionImage by London Summit via Flickr

menyembuhkan luka di tubuh partai berlambang matahari biru ini.

"Kalau Pak SBY mengambil Pak Hatta, permasalahan dalam tubuh PAN akan dengan sendirinya selesai," tutur Ketua DPP PAN, Patrialis Akbar, kepada detikcom, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (7/5/2009).

Menurut Patrialis, permintaan DPD PAN agar digelar rapimnas lagi tidaklah realistis. Peraturan dalam tubuh PAN jelas mengatur rapimnas hanya sekali saja.

"Saya kira tidak mungkin, karena memang aturan mainnya cuma sekali. Rakernas aturan mainnya hanya DPP, kalau DPD dibawa ya gimana ribut terus," ujarnya.

Menurut dia, jalan terbaik adalah berdoa dan berusaha terus melobi supaya SBY memilih Hatta Radjasa sebagai cawapres pendampingnya. Dengan demikian perpecahan dalam tubuh PAN terobati.

"Harapan saya secara internal damai-damai,

The Yudhoyonos in a family outing, from left: ...Image via Wikipedia

kita ingin aspirasi kita bisa diperhatikan dengan sungguh-sungguh oleh SBY," tutur Patrialis.

Mengenai kabar perpecahan rencana mundurnya sang ketua umum, Sutrisno
Bachir, Patrialis mengaku tidak tahu-menahu. Bagi dia, hal itu baru kabar burung yang belum jelas juntrungannya.

"Saya belum dapat konfirmasi, saya baru dengar kabar burung saja. Rapat tiap minggu ada, saya tiap hari Rabu gelar rapat untuk berkomunikasi internal," pungkasnya.
Reblog this post [with Zemanta]

Dukung Rencana SB Mundur, BM PAN DIY Sujud Syukur


Yogyakarta - Isu akan munduRNYa Soetrisno Bachir (SB) sebagai Ketua Umum PAN disambut baik Barisan Muda (BM) PAN Yogyakarta. Mereka menilai, sebaiknya SB menerima hasil Rakernas PAN di Yogya yang mengusulkan Hatta Radjasa sebagai cawapres SBY.

Sebagai bentuk ungkapan rasa syukur itu, puluhan anggota BM PAN DIY melakukan sujud syukur. Sujud syukur itu dilakukan di kantor DPW PAN DIY di Jl Ngeksigondo, Kotagede, Yogyakarta, Kamis (7/5/2009) pukul 16.15 WIB.

"Kalau SB ingin mundur dari ketua umum, seluruh kader merasa bersyukur, demi kebesaran partai," ungkap Ketua BM PAN DIY, Ahmad Yohan.

Yohan mengatakan bila ada ungkapan bila SB didholimi itu adalah pernyataan tidak benar. Namun bila SB benar-benar mau mundur, kondisi partai akan menjadi kondusif dan lebih baik. Sebab saat ini sudah mulai muncul rasa ketidakpuasan terhadap kepemimpinan di DPP yang didominasi oleh sekelompok orang. Kekalahan PAN di beberapa daerah termasuk Yogyakarta akibat tidak bekerjanya partai dengan baik.

"Tidak ada kerja-kerja institusi partai. DPP tidak pernah memberikan inspirasi yang lebih baik untuk partai, tapi selama ini hanya digunakan untuk kepentingan pribadi," kata Yohan yang menyentil ketika sang ketua umum banyak beriklan dengan 'hidup adalah perbuatan.'

Menurut dia, semua pihak hendaknya mengakui hasil rakernas PAN di Yogyakarta pada tanggal 2 Mei 2009. Sebab hal itu merupakan keputusan tertinggi. Pihaknya juga akan mengawal hasil rakernas tersebut.

"SB mundur adalah jalan terbaik dan kami siap membela Amien Rais. Kami tak ingin Amien Rais dilecehkan. Dia adalah pendiri dan ketua umum PAN selama dua periode," tegas Yohan didampingi Ketua Simpatik DIY, Rusni Abdullah dan Sekretaris BM PAN DIY, Eko Masruri.

Usai membacakan pernyataan sikapnya mereka kemudian meneriakan yel-yel "SB mundur dan PAN menang" berkali-kali sambil mengacungkan genggaman tangan kanan ke atas. Setelah itu mereka kemudian melakukan sujud syukur bersama-sama.

Sekadar diketahui, Rapimnas PAN yang digelar di Yogyakarta memutuskan mengusulkan Hatta sebagai cawapres SBY. Keputusan ini disebut-sebut memicu kekecewaan SB selaku Ketua Umum PAN karena hal itu melanggar kesepakatan yang diambil dalam pertemuan dirinya dan Amien Rais. Salah satu kesepakatan itu adalah rakernas di Yogya tidak memutuskan hasil final, ternyata membuat keputusan final.

Kekecewaan inilah yang kemudian kabarnya membuat SB berniat mundur. SB sendiri belum bisa dikonfirmasi mengenai kabar tersebut.
Reblog this post [with Zemanta]

KPU Umumkan Hasil Pemilu 2009 Tepat Waktu


Komisi Pemilihan Umum (KPU) dipastikan akan memenuhi jadwal pengumuman dan penetapan hasil Pemilu 2009 pada 9 Mei lusa. Meski hingga H-2 ini baru 85 persen suara nasional yang sudah ada hasil rekapitulasinya.

"KPU siap mengumumkan hasil penghitungan suara dan komposisi kursi legislatif tanggal 9 Mei 2009 dan dijadwalkan pada pada pukul 19.30 WIB," ujar Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD di Gedung MK, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Kamis (7/5/2009).

Pernyataan Ketua MK ini merupakan salah satu hasil rapat koordinasi tentang perkara penyelesaian hasil Pemilu 2009. Rakor diikuti oleh Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary, Ketua MA Harifin A Tumpa, Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri dan Ketua Bawaslu Nur Hidayat Sardini.

Sejauh ini masih ada 5 provinsi yang hasil suaranya belum tuntas dihitung. Dua di antaranya adalah Papua dan NTT yang kebetulan pelaksanaan pemungutan suaranya di beberapa daerah pemilihannya tidak bisa serempak dengan jadwal nasional.

Seperti diberitakan, pelaksanaan rekapitulasi manual yang kelak akan ditetapkan sebagai hasil Pemilu 2009 dan rujukan bagi pembagian kursi legislatif 2009-2014, tidak sepenuhnya mulus. Ada banyak perwakilan partai politik yang menolak mengesahkan hasil penghitungan suara di tingkat KPUD karena menduga ada praktek penggelembungan dan pencurian suara.
Reblog this post [with Zemanta]

Jika SBY Kalah di Pilpres, Suara Lari ke JK-Wiranto


Pilpres 2009 akan digelar pada 9 Juli 2009. Jika SBY kalah di putaran pertama di Pilpres maka suaranya diprediksi akan lari ke JK-Wiranto di putaran berikutnya.

"Saya kira akan ke JK-Wiranto, terutama JK karena antara Golkar dan Demokrat punya karakteristik pemilih yang sama dan secara ideologi mereka juga memiliki kesamaan," kata Direktur Eksekutif Reform Institute, Yudi Latif, saat ditanya prediksi jika SBY kalah di Pilpres maka suara akan diberikan ke pasangan capres-cawapres mana.

Hal ini disampaikan dia usai acara Jurnalis Meeting bertajuk "Pemilu 2009 menghasilkan pemerintahan untuk rakyat?" di Jatipadang V nomor 1, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2009).

Menurut dia, JK-Wiranto diprediksi dapat merebut suara jika ada 3 pasangan capres-cawapres.

"Apalagi, JK kuat di luar Jawa. Saya kira suara luar Jawa larinya ke JK, terutama Indonesia Bagian Timur. Apalagi JK punya jaringan ke Minangkabau," ujarnya.

Yudi mengatakan pecahnya suara DPD Partai Golkar tidak mempengaruhi suara JK-Wiranto. "Saya kira luar Jawa hampir semuanya ke JK. Maka itu, urusan di dalam Jawa adalah urusan Wiranto bagaimana mendapatkan suara," kata dia.
Reblog this post [with Zemanta]

03 May, 2009

Hidayat Ajak Mahasiswa Pilih Parpol Islam


Jakarta - Hidayat Nur Wahid mengajak Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah untuk memilih partai Islam. Hidayat menyadari rendahnya partisipasi pemilih yang memilih partai Islam pada Pemilu 2009.

masked manImage by squid697 via Flickr


"Partainya boleh PAN, PMB, atau PKB kalau mau, tapi yang penting untuk kemaslahatan umat Islam," tutur Anggota Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid.

Hal ini disampaikan Hidayat saat memberikan sambutan penutupan pelatihan akhir Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah, di Kantor Pusat PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (2/5/2009).

Menurut Hidayat, perolehan suara partai Islam dalam Pemilu 2009 adalah yang terendah dalam kurun waktu 3 pemilu terakhir. Namun menurut Hidayat, di pemilu yang akan datang, kemungkinan peningkatan suara parpol Islam masih sangat memungkinkan.

"Sekalipun akumulasi partai Islam terendah sejak pemilu sebelumnya, masa depan parpol Islam tidak dapat diukur dengan pemilu 2009," tutur Hidayat.

"Sepanjang orde baru Golkar yang dominan, namun yang memerintah sampai sekarang adalah PPP, Putra Putri Presiden," candanya.

Dalam kesempatan ini Hidayat mengingatkan petinggi partai Islam yang mulai melupakan syariat Islam. Menurutnya para penguasa yang berangkat dari parpol Islam sudah menutup matanya.

GolkarImage via Wikipedia



"Apapun manuver Anda, dimanapun partai anda berada, jangan pernah melupakan umat, untuk bangkitnya politik islam di waktu-waktu yang akan datang," tutur Hidayat.

Menurut Hidayat, pemilu depan adalah saat yang tepat untuk kebangkitan partai Islam, karena perpecahan mulai menghantui partai besar.

"Banyak partai besar mulai pecah, kita jangan menjustifikasi sekarang kita kalah," pungkasnya.

( van / ken )
Reblog this post [with Zemanta]